LOREM IPSUM DOLOR

TENUN BADUY

Keunikan dan keragaman budaya Nusantara salah satunya dapat ditemui melalui kain tenun. Kain menunjukkan identitas dari mana ia berasal, serta mengandung filosofi sebagai harapan tertentu bagi si pemakai dilihat dari jenis pembuatan maupun kekayaan motifnya. Begitu juga dengan Urang Kanekes atau Suku Baduy di Provinsi Banten yang masih memegang teguh adat leluhurnya, mereka menuangkan keunikan tradisi dalam kain tenunnya.

Kain tenun yang dipakai sebagai baju adat suku Baduy memiliki kekhasannya sendiri, menunjukkan identitas dan makna simbolik di dalamnya. Motif kain tenun Baduy tidak lepas dari unsur alam, fungsi pemakaian, dan nilai adat. Perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar dapat dilihat dari warna dan tenunan yang mereka kenakan.

Kain yang didominasi dengan warna putih untuk Suku Baduy Dalam. Warna putih diartikan dengan kesucian dan aturan yang belum terpengaruh dengan budaya luar. Selain itu, teksturnya yang kasar dan motif sederhana menjadi ciri khas lainnya dari kain ini. Sedangkan untuk suku Baduy Luar, kain didominasi dengan warna hitam dan biru tua. Bagi perempuan, kain digunakan untuk membuat baju adat yang memiliki bentuk menyerupai kebaya.

Proses Pembuatan

Keterampilan membuat seni tenun pada masyarakat adat Baduy mengalami perjalanan waktu yang panjang dan tentunya tidak lepas dari latar belakang yang dipengaruhi berbagai unsur sejarah. Diperkirakan keahlian yang mereka miliki sejak masa perundagian atau perunggu mulai abad ke-8 sampai ke-2 SM.

Kapas yang merupakan salah satu bahan dasar dalam membuat kain tenun diproses menjadi benang dengan pemintalan sederhana kemudian ditenun dengan alat dari kayu yang mereka buat sendiri. Pengetahuan tentang kapas sebagai bahan benang sudah dimiliki oleh Urang Kanekes sejak lama. Seperti halnya kebiasaan masyarakat Baduy yang selalu mempersembahkan sepuluh pikul kapas kepada pihak Kerajaan Pajajaran dan tradisi pembuatan kain yang sudah ada sejak masa itu. Adapun yang berpendapat bahwa busana orang Baduy saat ini merupakan busana yang digunakan oleh masyarakat Jawa Barat pada masa silam.

Pembuatan kain tenun yang melibatkan alam mulai dari penanaman biji kapas, pemanenan, pemintalan, sampai dengan pewarnaan benang sampai selesai dipintal. Proses menenun hanya dilakukan oleh perempuan suku Baduy. Penenunan dilakukan menggunakan pakara, yaitu alat tenun gendong yang digunakan oleh masyarakat Baduy untuk menghasilkan kerajinan kain tenun.

Pada umumnya proses tenun dilakukan setelah musim panen, sebab pada masa tersebut wanita tidak banyak disibukkan untuk mengolah hasil panen. Lama proses menenun berlangsung selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, tergantung ukuran kain dan kerumitan motif kain. Motif kain Suku Baduy berupa garis warna-warni dan motif yang terinspirasi dari alam.

Hasil tenun akan digunakan dalam kegiatan adat. Terutama untuk Suku Baduy Dalam yang selalu memegang teguh peraturan adat. Pakaian harus terbuat dari kapas dan tidak boleh menggunakan mesin jahit dalam proses pembuatannya.

Motif Kain

Ragam hias pada kain tenun Baduy berbentuk geometris telah dihasilkan oleh para wanita secara turun menurun sehingga tidak ada yang tahu pasti asal usul dari ragam hias tersebut. Sehingga, tenun Baduy tampak lebih sederhana jika dibandingkan dengan tenunan dari daerah lain. Akan tetapi, dalam ragam hias tenunan Indonesia, pengetahuan seni ragam geometris merupakan gambaran dari pengetahuan konsep tentang alam dan lingkungan hidup.

Reka hias dan kerajinan tangan tenun orang Baduy merupakan karya cipta yang tinggi. Keragaman dan keunikan kain tenun Baduy merupakan cerminan dari filosofi hidup mereka. Kesederhanaan motifnya cerminan dari kepercayaan masyarakat Baduy bahwa mereka harus tetap ada dalam kesahajaan dan kesederhanaan. Meninggalkan kesederhanaan berarti meninggalkan tapa di dunia, yaitu tapa yang berupa melaksanakan semua aturan sebelumnya yang sudah digariskan oleh karuhun.

Serta motifnya merupakan kreasi dari bentuk-bentuk simbolis yang tertuang dalam adat hingga keseharian mereka. Dalam kaitannya dengan nilai-nilai kepercayaan, bahwa unsur-unsur tersebut merupakan satu bentuk ekspresi pengakuan terhadap keberadaan, keagungan, dan kebesaran Tuhan, Sang Pencipta kehidupan semua makhluk di dunia.

Dalam ragam hias tenun Baduy, unsur-unsur tersebut diwujudkan dalam bentuk garis geometris seperti garis berbentuk kait, spiral atau pilin, garis lurus, segitiga, segiempat, bulatan, dan masih banyak lainnya.

Dalam pembuatan kain tenun, wanita Suku Baduy biasanya berfokus pada dua jenis kain tenun, diantaranya kain sarung atau disebut dengan samping, dan tenunan bodasan atau disebut juga dengan boeh. Sarung atau samping pada umumnya berwarna dasar hitam atau biru tua dipadu dengan garis-garis kecil warna biru terang, atau motif kotak-kotak tipis atau hanya bermotif polos. Samping dapat dijahit menjadi sarung atau kulot, semacam rok pada wanita.

Tenunan bodasan atau boeh merupakan tenunan putih polos yang biasanya digunakan sebagai bahan untuk membuat baju, ikat kepala, atau selendang. Ikat kepala selalu dikenakan oleh kaum laki-laki.

Memasuki kurun sepuluh tahun terakhir telah terjadi kerjasama antara pengrajin tenun Baduy dengan seniman tenun dari daerah lain. Para desainer akademis mencoba melakukan pendampingan kepada warga Baduy untuk mengembangkan motif, warna, serta ukuran tertentu. Meskipun memiliki kendala dalam proses pengembangannya karena tradisi masyarakat adat Baduy yang sulit menerima perubahan, namun pada akhirnya kreativitas masyarakat adat Baduy dalam menenun telah berkembang. Hasilnya tercipta desain baru bagi penenun Baduy yang memberikan harapan untuk dipasarkan lebih luas lagi.

Saat ini kain tenun Baduy tidak hanya diperuntukkan sebagai pakaian adat saja. Seiring berkembangnya pariwisata di Baduy Luar, penduduk memanfaatkannya untuk menjual kain kepada wisatawan yang datang berkunjung ke daerah mereka.  Tentunya kain ini dijadikan buah tangan bagi wisatawan yang pernah berkunjung ke Suku Baduy, dari kain ikat kepala dan pakaian adat, dan ada juga kain untuk taplak meja atau sebagai dekorasi cantik di rumah.

Harga kain yang ditawarkan beragam sesuai dengan jenis dan ukurannya. Tiga jenis kain tenun yang dapat dibawa sebagai buah tangan, antara lain berupa selendang kecil dengan harga mulai dari Rp50.000,- kemudian samping dan telekung yang ukurannya lebih besar seharga lebih dari Rp200.000,-.